Selamat Datang di Blog Moko Yuliatmoko

Tampilkan postingan dengan label Fotografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fotografi. Tampilkan semua postingan

Senin, Mei 15, 2017

5 Setting Kamera Yang Harus Diperiksa Sebelum Mulai Memotret

Pernah tidak mengalami kejadian seperti ini?
  • Anda pulang dari acara memotret dan baru menyadari bahwa tadi di sepanjang pemotretan anda menggunakan ISO 1200, padahal acaranya dilaksanakan di siang bolong saat ISO 200 saja cukup
  • Anda baru menyadari bahwa anda menggunakan settingan white balance untuk mendung, padahal dari awal acaranya dilakukan diruangan dengan penerangan lampu neon
Kesalahan mendasar seperti ini membuat kita harus bersusah payah melakukan koreksi pada foto, kalau satu dua sih tidak masalah, kalau ratusan foto?. Okelah, mungkin dengan bantuan software kita bisa melakukan koreksi dengan relatif cepat, tapi bukankah lebih enak kalau kesalahan seperti ini bisa dihindari sejak awal.
Secara mendasar, ada 5 setting di kamera digital anda yang harus selalu diperiksa sebelum jari memencet tombol shutter pertama kali dalam sebuah sesi pemotretan. Silahkan:

1. Periksa Settingan White Balance Anda

20110805-p5xmnd5pqn66ur5427hjpc1kmx
Gunakan settingan white balance yang sesuai dengan kondisi, atau kalau anda percaya dengan kamera, set white balance di posisi auto. Baca lebih jauh tentang white balance.

2. Hidupkan Highlight Warning Kamera

20110805-bg8nhh9c8jfcumykru4k693bn4
Tips ini ampuh untuk menghindari foto yang overexposure. Highlight warning adalah penanda yang muncul di layar LCD kamera saat ada bagian foto yang terbakar alias overexposed. Selain menggunakan highlight warning, anda juga bisa memeriksa histogram di LCD kamera digital anda.

3. Periksa Setting ISO

20110805-nd7jkft7meb2jw8tbgqqmhsxf4
Settingan ISO menentukan seberapa peka sensor kamera terhadap cahaya, makin tinggi angkanya semakin peka. Kalau tadi malam anda memotret pesta ulang tahun teman anda di restoran, pastinya ISO yang digunakan akan berbeda dengan setting ISO saat akan digunakan untuk memotret acara gerak jalan dijalan raya.
Baca lebih jauh mengenai ISO disini.

4. Periksa Setting Ukuran dan Format Foto

20110805-i8p1142ra69fnxm17xpuysw49
Memotret ribuan foto sekaligus, seperti misalnya saat anda hunting di kebun binatang (baca tips memotret di kebun binatang), tentunya membutuhkan pengaturan ukuran foto yang berbeda dibandingkan memotret keluarga di studio misalnya, apalagi jika kartu memori yang anda miliki kapasitasnya berbeda.
Format foto, apakah harus memilih JPG atau RAW juga wajib dipertimbangkan sebelum sesi foto anda dimulai.

5. Periksa Settingan Mode Exposure Kamera

20110805-1mjp1yr3hp3k654mnpkiupt5c9
Dalam kamera SLR atau pocket, biasanya tersedia beberapa pilihan untuk mode eksposur yang anda pilih: Manual – Aperture Priority – Shutter Priority – Mode Program dan beberapa preset bawaan kamera digital. Pastikan anda sudah mengetahui mode mana yang akan anda pilih.
Lakukan 5 persiapan diatas, maka acara hunting, sesi memotret maupun iseng-iseng memotret acara di RT anda akan lebih lancar dan anda juga akan terlihat lebih jago.
Selengkapnya...

Teknik Fotografi : Panduan Mudah Mengetahui Efek ISO, Aperture dan Shutter Speed Pada Kamera

                            Panduan Mudah Setting ISO, Aperture dan Shutter Speed Pada Kamera
Belajar dasar-dasar teknik fotografi membutuhkan sedikit usaha dan salah satu konsep fotografi yang cukup kompleks bagi pemula adalah hubungan antara ISO, aperture dan shutter speed. Sebuah situs fotografi asal Jerman yaitu Photoblog Hamburg membuat infografis sederhana tapi sangat membantu untuk menjelaskan efek dari ketiganya.


Secara singkat bagian atas merupakan setting aperture, kemudian tengah adalah shutter speed, dan ISO di bagian bawah. Ini tentu saja bukan representasi sempurna dari apa yang akan Anda dapatkan, tapi ini adalah visualisasi yang bagus yang membantu memahami dasar-dasar teknik fotografi terutama bagi pemula.Grafik di atas menggunakan pendekatan sederhana berbagai setting dan efeknya terhadap hasil foto. Bagaimana jumlah cahaya yang Anda tentukan akan mempengaruhi foto, bagaimana pengaturan tertentu dapat meningkatkan noise, dan bagaimana tingkat fokus bisa berubah-rubah.

Note : Untuk simulasi kamera secara online bagaimana cara setting dan efeknya terhadap foto bisa menggunakan simulator kamera ini. Jika belum pernah membaca atau belajar konsep dasar fotografi saya wajibkan untuk membaca ini terlebih dahulu.
Saya akan jelaskan sedikit disini dengan mengambil beberapa contoh studi kasus.

1. Foto dengan POI Fokus dan Background Blur

Kita ingin mendapatkan foto dengan obyek point of interest (POI) fokus dan background blur, kondisi ini yang biasanya digunakan untuk mengambil foto portrait. Kita lihat saja panduan paling atas dan pilih hasil dengan gambar orang berdiri fokus dengan background gunung yang blur. Terlihat yang menentukan background blur adalah aperture atau bukaan besar dari f/5.6 – f/1.4 bisa memberi efek yang diinginkan. Semakin besar bukaan, semakin sempit DOF (kedalaman fokus), semakin blur background terhadap POI. (Perlu dicatat bahwa seberapa besar bukaan yang bisa dilakukan sangat tergantung lensa yang digunakan).
Selain aperture sebenarnya ada hal lain yang menentukan background blur yang tidak disebutkan pada gambar infografis di atas, yaitu jarak antara POI dan background. Semakin jauh jaraknya semakin jauh juga perbedaan tingkat fokus antara obyek di depan dengan background. Konsep lengkap mengenai DOF bisa dibaca di artikel ini.

2.  Foto Adegan Bergerak Dengan Jaminan Obyek Fokus

Faktor utama yang menentukan fokus tidaknya saat mengambil foto obyek yang sedang bergerak adalah Shutter Speed (kecepatan rana). Dalam infografis di atas digambarkan sebagai orang yang berlari. Maka jika ingin mengambil foto obyek bergerak dan fokus pastikan shutter speed di kisaran 1/1000s – 1/500s, sangat tergantung secepat apa gerakannnya. Shutter lebih lambat dari itu bisa dipastikan obyek POI akan blur.
Yang patut diperhatikan (karena tidak disebutkan pada gambar) adalah bahwa untuk bisa menggunakan kecepatan rana 1/1000s harus dipastikan cahaya cukup, karena jika tidak hasil foto akan gelap atau underexposed. Untuk mendapatkan cahaya berlimpah selain dari kondisi tempat pengambilan foto juga dari setting aperture yang besar.

3. Foto Dengan Kualitas Terbaik

Yang terakhir adalah bagaimana cara mendapatkan foto dengan kualitas terbaik dalam artian tidak memiliki atau minim noise. Kalau lihat di panduan tersebut digambarkan dengan hasil foto berbintik. Semakin tinggi setting ISO yang  digunakan semakin noise hasil foto yang akan didapatkan, jadi jika tidak ingin noise muncul usahakan memakai ISO serendah mungkin. Contoh adalah ISO 50, ISO 100. Abaikan ISO paling tinggi karena hasil foto sangat tidak jelas, banyak bintik-bintik noise dan warna jadi kacau.
Perlu dicatat lagi bahwa memang kita tidak selalu bisa memilih ISO rendah. ISO adalah tingkat sensitifitas, tujuan ISO tinggi sebenarnya agar kita bisa mendapatkan cahaya lebih banyak pada saat kondisi minim cahaya. Karena jika kondisi lowlight kita memakai ISO rendah hasil foto akan gelap (sensor kurang sensitif). Teknologi semakin maju dibandingkan beberapa tahun lalu, saat ini memakai ISO 6400 pun pada kamera terbaru bisa mendapatkan hasil yang sangat baik.

Kesimpulan

Aperture, Shutter Speed dan ISO tidak berdiri sendiri seperti yang digambarkan pada info grafis di atas. Sebenarnya ketiganya akan saling memberi efek kompensasi satu sama lain. Tetapi untuk belajar teknik fotografi awal informasi di atas sudah sangat baik. Lakukan percobaan secara terpisah antara ketiga settingan tersebut. Dengan berjalannya waktu, semakin banyak moto dengan setting manual, akan mengerti dengan sendirinya hubungan antara ketigannya. Semoga bermanfaat.
Selengkapnya...

Belajar fotografi pakai manual mode

Inilah hal-hal yang bisa anda lakukan dengan fitur manual eksposure P/A/S/M pada kamera anda

  1. Program mode (P). Huruf P disini kadang artinya diplesetkan sebagai ‘Pemula’ karena sebenarnya di mode ini hampir sama seperti memakai mode AUTO (oleh karena itu mode P ini relatif aman untuk dipakai sebagai mode standar sehari-hari). Bila pada mode AUTO semua parameter ditentukan secara otomatis oleh kamera, maka pada mode P ini meski kamera masih menentukan nilai shutter dan aperturesecara otomatis, namun kita punya kebebasan mengatur nilai ISO, white balance, mode lampu kilat dan Exposure Compensation (Ev). Tampaknya tidak ada yang istimewa di mode P ini, tapi tunggu dulu, beberapa kamera ada yang membuat mode P ini lebih fleksibel dengan kemampuan program-shift. Dengan adanyaprogram-shift ini maka kita bisa merubah variasi nilai pasangan shutter-apertureyang mungkin namun tetap memberikan eksposure yang tepat (konsep reciprocity) . Bila kamera anda memungkinkan program-shift pada mode P ini, cobalah berkrerasi dengan berbagai variasi pasangan nilai shutter-aperture yang berbeda dan temukan perbedaannya.
  2. Aperture-priority mode (A, atau Av). Mode ini optimal untuk mengontrol depth-of-field (DOF) dari suatu foto, dengan cara mengatur nilai bukaan diafragma lensa (sementara kamera akan menentukan nilai shutter yang sesuai). Aturlah diafragma ke bukaan maksimal (nilai f kecil) untuk mendapat foto yang DOFnya sempit (objek tajam sementara latar belakang blur) dan sebaliknya kecilkan nilai diafragma (nilai f tinggi) untuk mendapat foto yang tajam baik objek maupun latarnya. Biasanya pada lensa kamera saku, bukaan diafragma maksimal di f/2.8 (pada saatwide maksimum) dan bukaan terkecil berkisar di f/9 hingga f/11 (tergantung spesifikasi lensanya). Namun dalam situasi kurang cahaya, memperkecil diafragma akan membuat eksposure jadi gelap, untuk itu biarkan nilai diafragma pada posisi maksimal saat memotret di tempat yang kurang cahaya.
  3. Shutter-priority mode (S, atau Tv). Mode ini kebalikan dari mode A/Av, dimana kita yang menentukan kecepatan shutter sementara kamera akan mencarikan nilai bukaan diafragma yang terbaik. Mode ini berguna untuk membuat foto yang beku (freeze) atau blur dari benda yang bergerak. Dengan memakai shutter amat cepat, kita bisa menangkap gerakan beku dari suatu momen olahraga, misalnya. Sebaliknya untuk membuat kesan blur dari suatu gerakan (seperti jejak lampu kendaraan di malam hari) bisa dengan memakai shutter lambat. Memakai shutterlambat juga bermanfaat untuk memotret low-light apabila sumber cahaya yang ada kurang mencukupi sehingga diperlukan waktu cukup lama untuk kamera menangkap cahaya. Yang perlu diingat saat memakai shutter cepat, cahaya harus cukup banyak sehingga hasil foto tidak gelap. Sebaliknya saat memakai shutterlambat, resiko foto blur akibat getaran tangan akan semakin tinggi bila kecepatan shutter diturunkan. Untuk itu gunakan fitur image stabilizer (bila ada) atau gunakan tripod. Sebagai catatan saya, nilai kecepatan shutter mulai saya anggap rendah dan cenderung dapat mengalami blur karena getaran tangan adalah sekitar 1/30 detik, meski ini juga tergantung dari cara dan kebiasaan kita memotret serta posisi jarak fokal lensa. Pada kecepatan shutter sangat rendah di 1/8 detik, pemakaian stabilizer sudah tidak efektif lagi dan sebaiknya gunakan tripod.
  4. Manual mode (M). Di level mode full-manual ini, fotograferlah yang bertugas sebagai penentu baik nilai shutter dan apertureLight-meter pada kamera tetap berfungsi, namun tidak digunakan untuk mengatur nilai eksposure secara otomatik melainkan hanya sebagai pembanding seberapa jauh eksposure yang kita atur mendekati eksposure yang diukur oleh kamera. Di mode ini dibutuhkan pemahaman akan eksposure yang baik, dalam arti fotografer harus mampu untuk mengenal kondisi cahaya pada saat itu dan dapat membayangkan berapa nilai shutter dan aperture yang diperlukan. Bila variasi kedua parameter ini tidak tepat, niscaya foto yang dihasilkan akan terlalu terang atau terlalu gelap. Namun bila sukses memakai mode manual ini, kita bisa mendapat foto yang memiliki eksposure yang baik melebihi foto yang diambil dengan mode AUTO, Program, Aperture-priority ataupun Shutter-priority. Contohnya pada saat mengambil foto sunset di pantai dimana dibutuhkan feeling yang tepat akan eksposure yang diinginkan.
Hal yg perlu diketahui adalah ISO. kata ISO sama dgn ASA seperti pada kamera manual yang memakai roll film. Cuma yg perlu anda ketahui, semakin rendahnya angka ISO seperti 100, tingkat kepekaan cahayanya semakin kecil maksutnya jika memotret di dalam ruangan agak remang2 dengan menggunakan ISO 100 (rendah) maka hasilnya akan gelap, tapi lihat kebutuhan juga karena kadang memang disengaja untuk mendapat hasil yg dramatis, biasanya kalau saya ISO 100 dipakai waktu outdoor dan cuaca cerah.
Begitu sebaliknya semakin tinggi nilai ISO misalnya 1600, semakin besar tingkat kepekaan cahayanya, biasanya ISO 1600 digunakan pada saat situasi terjepit misalnya tidak boleh menggunakan flash dan kondisi ruangan gelap, hasilnya mungkin bisa terang tapi gambar kasar (noise), seperti bintik2 warna warni.
kalau saya sendiri misalnya motret di ruangan, saya pakai ISO 200 juga terkadang 400, untuk 800 dan 1600 sangat jarang, tergantung kebutuhan.

* ISO
ISO adalah sensitifitas sensor kamera terhadap cahaya. ISO digambarkan dengan angka.
Misal 100, 200, 400 dan seterusnya. Semakin besar ISO yang kita pakai,
maka semakin sensitif pula sensor kamera terhadap cahaya.
 
1.ISO rendah
Yang termasuk dalam rentang ISO rendah adalah ISO 100 - ISO 200,pada rentang ISO rendah
ini sangat cocok untuk untuk situasi outdoor dengan sinar matahari yang terang dari pagi sampai siang.
2.ISO sedang
Rentang ISO sedang yaitu ISO 400 - ISO 800,baik digunakan untuk outdoor pada sore hari atau dalam keadaan mendung.
3.ISO tinggi
ISO tinggi digunakan untuk pemotretan dalam keadaan cahaya gelap,yang termasuk dalam ISO tinggi
adalah ISO 1600 keatas.
  
*  Shutter
Hal ke 3 adalah shutter, bahasa kita adalah kecepatan rana. pengertian shutter adalah lamanya waktu aperture buka, maksutnya begini, di manual mode waktu anda set bukaan 5.6 dan shutternya 1oo, ketika anda tekan full tombol rana (click), aperture akan membuka besarnya 1/5.6 spt gambar diatas selama 1/100 detik.
Untuk kamera 350D ada fasilitas BULB, ini maksutnya lama waktu bukaan aperturenya ditentukan oleh kita sendiri, misalnya anda set bukaan 5.6 lalu shutternya BULB, di 350D waktu anda tekan clik penuh, tombolnya jangan dilepas, tahan/hold selama anda mau misalnya 20 detik lalu lepas, hasilnya pasti hancur karena f/5.6 lumayan besar dan 20 detik bukan waktu yg singkat.
Tapi coba aja pada waktu malam hari di atas gedung memotret jalanan yg banyak mobil lalu lalang, lalu set f/22 dan shutternya bulb, lalu click dan hold selama 20 detik, hasilnya mungkin masih bagus, lampu2 mobil di jalan raya seperti kelihatan garis2 mengikuti jalan, tapi dgn catatan mobil yg lalu lalang sedikit, kalau banyak jgn 20 detik, terlalu lama.

Bagaimana kalau shutter tinggi seperti 1/250, coba aja cari objek air terjun/air mancur/paling gampang air kran, yg pertama menggunakan shutter rendah bisa bulb, 10″, 5″ dan yg kedua 1/200, hasil yang pertama airnya kelihatan ngalir terus dan yg ke 2 airnya terlihat seperti berhenti. Kenapa bisa demikian? karena 1/250 merupakan waktu yg sangat cepat sehingga bisa membekukan suatu objek, sedangkan 5″ adl waktu yang lama, sensor kamera mengambil gambar terus-terusan selama 5 detik akibatnya gambar sepertinya bergerak hidup. Keduanya sama2 bagus tergantung situasi, kondisi, dan penggunaannya. 


LENSA

  1. pertama yang perlu dipelajari adalah spesifikasinya lensa, saya ambil contoh lensa kitnya canon 350D yaitu EF-S 18-55  f/3.5-5.6  USM.
    Apa yang dimaksud EF-S ?
    Lensa EF-S ini hanya bisa digunakan di kamera APS-C salah satunya canon 350D yang harganya jauh lebih murah daripada lensa EF yg digunakan untuk kamera 35 mm Full Frame seperti canon 5D atau 1D. Sebenarnya lensa EF sendiri juga bisa digunakan di kamera APS-C tetapi ada pemotongan gambar istilah kerennya crop factor. Untuk detailnya bisa melihat di artikel saya yang lain atau bisa baca di wikipedia dulu, ini linknya APS-C dan EF-S
    Apa yang dimaksud 18-55? 
    Ini istilah kerennya ‘focal length’ disingkat FL kalau FL nya 18 mm berarti sudut pandangannya(zoom) lebar artinya bisa untuk  foto pemandangan atau foto group, semakin tinggi nilai FL nya semakin sempit sudut pandangnya, 55 mm menurut saya lumayan sempit cocok buat foto portrait. Kalau mau lebih sempit biasanya 70 mm keatas, sedangkan untuk lebih lebar bisa coba 11mm, tapi 18 mm saya rasa sudah lumayan lebar. Semua tergantung kebutuhan.
    Apa yang dimaksud 18-55mm f/3.5 – 5.6 yg biasa kita sebut aperture/diafragma istilah kerennya ‘bukaan’
    Coba perhatikan angka f/2.8, 5.6, 11 di  gambar bawah, mungkin ada orang yg berpikir kalau 2.8 < 22 maka seharusnya 2.8 bukaan kecil dan 22 bukaan besar. Itu pikiran yg salah, sebenarnya maksud penulisan f/2.8 = 1/2.8 dan f/11 = 1/11, jadi dalam hitungan matematika 1/2.8 > 1/11 yang berarti semakin kecil angka f  semakin besar bukaannya yg biasa kita sebut bukaan besar, sedangkan kalau  angka f-nya semakin besar bukaannya justru semakin kecil.
    Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang ada orang yang bilang ‘coba pakai f kecil’ dan ada juga yang bilang ‘coba pakai bukaan besar’, Keduanya mempunyai arti yang sama, jadi jangan sampai bingung, pakai salah satu sebagai acuan anda sendiri, kalau saya pribadi lebih senang pakai kata bukaan besar/bukaan kecil.

    Flash 
    Kalau di luar ruangan dan cuaca cerah mungkin flash tidak dibutuhkan kecuali mungkin objeknya terkena bayangan pohon, daun, topi, dll baru flash bisa digunakan sebagai fill in, bisa juga digunakan waktu sumber cahaya berada di belakang objek kecuai kalau mau foto siluet.
    Kalau di dalam ruangan internal flash bisa saja dibutuhkan, untuk 350D dilengkapi fasilitas metering cahaya gunanya untuk mengetahui sebelum dipotret apakah nanti hasilnya over expose (terlalu terang) atau under expose (terlalu gelap). Tapi kalau saya pribadi agak ngga begitu percaya dengan meteringnya 350D dan juga saya agak ngga suka hasil foto yang langsung mepakai direct flash. untuk lebih detailnya bisa lihat di artikel saya yg lain mengenai flash.
Selengkapnya...

Jumat, April 28, 2017

Daftar Istilah Dalam Pembuatan Skrip / Skenario /Screenplay

Menulias Skenario Film
Menulis skenario film memang sangat menyenangkan. Di sana kita bisa menerjemahkan setiap kalimat dalam naskah menjadi sebuah gambaran imajinasi visual. Skenario adalah sebuah naskah cerita yang menguraikan urut-urutan adegan, tempat, keadaan, dan dialog, yang disusun dalam konteks struktur dramatik; fungsinya adalah untuk digunakan sebagai petunjuk kerja dalam pembuatan film. Tentu saja, bagi yang tertarik menulis skrip/ skenario, harus paham dulu bagaimana cara menuliskannya. Nah, dalam proses dunia penulisan skenario, terdapat banyak istilah-istilah penting;
Di bawah ini adalah daftar istilah dalam skenario yang saya ambil dari buku Kunci Sukses Menulis Skenario – Elizabeth Lutters :
ACTION = Selain diartikan sebagai perintah sutradara saat pengambilan gambar, ACTION juga bisa diartikan sebagai gerak laku pemeran, yang terjadi dalam suatu adegan. Selain itu, kata ACTION juga bisa dipakai untuk menentukan jenis sebuah film, yang diartikan sebagai film laga.
BIG CLOSE UP (BCU) = pengambilan gambar pada jarak sangat dekat. Misalnya, dalam gambar orang hanya terlihat bibirnya saja. Contoh pemakaian dalam skenario, untuk menunjukkan sebuah cincin di jari manis tokoh, kita bisa pakai BCU untuk cincin. Namun jika ini sudah diperjelas dalam deskripsi, tidak perlu ditulis BCU lagi, sebab ini adalah tugas sutradara.
CLOSE UP (CU) = Pengambilan gambar pada jarak dekat. Dalam gambar orang terlihat wajahnya saja. Untuk pemakaian dalam skenario, CU bisa untuk menegaskan ekspresi tokoh. Namun, penggunaan CU sebisa mungkin untuk hal-hal yang sangat penting saja, misalnya menegaskan sebuah lirikan mata dan senyum sinis A pada B. Jika tidak terlalu penting, jangan gunakan tanda CU ini karena masalah shot adalah wilayah sutradara.
COMMERCIAL BREAK = Jeda dalam tayangan sinetron yang diisi iklan. Biasanya penulis skenario juga harus memperhitungkan saat jeda ini, dengan memberikan suspense pada cerita–sebelum commercial break–agar penonton tetap menunggu kelanjutan cerita kita, tanpa berpindah ke channel lain.
CREDIT TITLE = Penayangan nama tim kreatif dan para ahli, serta semua orang yang terlibat dalam pembuatan sinetron/ film tersebut.
CUT BACK TO = Transisi dengan tempo cepat, tapi kembali ke adegan/ lokasi yang telah dilihat sebelumnya. Contoh penggunaannya dalam skenario, misalnya seorang anak menangis karena terpisah dari ibunya di mal, CUT TO: Ibu sedang mencari anaknya dengan gelisah di sudut yang lain, maka ketika akan kembali ke gambar anak yang menangis tadi, yang saat ini mungkin sudah dibantu satpam, transisinya kita pakai CUT BACK TO.
CUT TO = Transisi/ peralihan dengan tempo yang cepat, misalnya untuk menggambarkan kejadian yang terjadi bersamaan tapi pada tempat yang berbeda. Atau juga kelanjutan adegan, tapi masih pada hari yang sama.
DISSOLVE TO = Transisi yang menunjukkan gambar menjadi kabur, kemudian masuk ke gambar adegan berikutnya. Dalam skenario, ini biasanya dipakai untuk menggambarkan sebuah mimpi, mengenang masa lalu, atau flash back, membayangkan sesutau yang akan terjadi.
DIALOG = Kalimat yang diciptakan oleh penulis skenario, yang nantinya diucapkan oleh seorang aktor. DIALOG harus mewakili peran, karakter, dan perasaan si tokoh dalam cerita.
DURASI = waktu tayang di televise sudah termasuk commercial break. Durasi yang umum: 30 menit, biasanya untuk sinetron serial komedi. Durasi 60 menit, biasanya untuk sinetron serial drama, durasi ni paling umum kita lihat di televise. Durasi 90 menit, biasanya untuk sinetron cerita lepas, semacam telesinema dan FTV.
ESTABLISHING SHOT = Biasa disingkat ESTABLISH saja, artinya pengambilan gambar secara penuh, terlihat secara keseluruhan. Biasanya pengambilan dari jarak jauh sehingga gambar terlihat kecil. Contoh, jika kita ingin memasuki setting sebuah kamar dalam rumah sakit, biasanya kita beri dulu ESTABLISH gedung rumah sakit secara keseluruhan. Namun, jika tempat itu sudah diperlihatkan secara keseluruhan, tidak perlu ada ESTABLISH berulang kali.
EXT. Singkatan dari EXTERIOR, biasanya dalam scenario ditulis pada deretan judul scene, untuk menunjukkan keterangan tempat di luar ruangan. Tulisan EXT. dan INT. bisa digabung menjadi misalnya: EXT./INT. yang menunjukkan adegan di jalanan/ dalam mobil. Bisa juga gabungan itu dipakai jika menunjukkan adegan pada teras sebuah rumah.
FADE OUT = Transisi gambar dari terang ke gelap dengan cara lambat.
FADE IN: Transisi gambar dari gelap ke terang dengan cara lambat. Dalam scenario, penulisan FADE OUT dan FADE IN biasanya bersamaan untuk transisi yang menujukkan perubahan waktu, bisa dari malam ke pagi, atau dalam hitungan hari, minggu, bulan, bahkan tahun. Selain menujukkan perubahan waktu, bisa juga menggambarkan perubahan keadaan dan perubahan lokasi.
FLASH BACK = Bisa diartikan sebagai kilas balik. Cerita yang kembali pada waktu sebelum kejadian berlangsung. FLASH BACK bisa menunjukkan kemunduran waktu beberapa tahun ke belakang, bisa juga hanya dalam waktu beberapa saat sebelumnya.
FREEZE = Menghentikan aksi atau bertahan pada posisi akhir adegan. Dalam penulisan scenario biasanya digunakan untuk akhir sebuah episode, di mana gambar berhenti mengakhiri  sebuah cerita.Akhir cerita ini pada sinetron serial biasanya diambil gambar yang paling menegangkan sehingga akan terjadi suspense bagi penonton. FREEZE umumnya untuk gambar tokoh sentralnya.
INSERT: Sisispan adegan pendek dan singkat tapi penting, di dalam sebuah scene. Misalnya, pada adegan beberapa orang ngobrol di dalam ruang tamu, tiba-tiba di luar ada orang yang mengintip dan menguping pembicaraan mereka. Meskipun setting berubah, kita tak perlu membuat scene baru untuk adegan mengintip itu, cukup dengan INSERT saja.
INTERCUT = Perpindahan dengan cepat, dari satu adegan ke adegan lain yang berada dalam satu kesatuan cerita. Misalnya adegan telepon, dua setting yang bergantian ditampilkan, maka kita bisa menggunakan INTERCUT untuk pergantian cepat setiap dialog si penelepon dan orang yang ditelepon.
INT. = Singkatan dari INTERIOR, penulisannya dalam scenario sama dengan EXT., tapi ini untuk menujukkan keterangan tempat di dalam ruangan.
LONG SHOT (LS) = Pengambilan gambar pada jarak jauh. Biasanya untuk gambar yang harus terlihat keseluruhan. Misalnya gambar orang akan terlihat seluruh badan berikut latar belakangnya. Namun, jika tak terlalu penting jangan cantumkan LS dalam scenario karena sama seperti CU dan BCU, ini juga wewenang sutradara.
MAIN TITLE = Judul cerita pada sebuah tayangan sinetron/ film. Dalam penulisan scenario biasanya ditampilkan atau ditulis setelah adegan teaser. Dan dilanjutkan dengan penayangan credit titles.
MONTAGE = Beberapa gambar yang menujukkan adegan berkesinambungan dan mengalir, bisa beberapa lokasi yang berbeda, tapi menyatu dalam rangkaian. Dalam penulisan scenario, misalna seorang sedang putus cinta, maka ia mulai mengenang masa indahnya dulu bersama mantan kekasihnya. Dalam hal ini kita pakai MONTAGE dengan menampilkan beberapa adegan indah anatara si tokoh dan mantan kekasihnya ketika masih bersama, kita tampilkan mereka sedang berkejaran di pantai, lalu kita tampilkan juga saat mereka berduaan di taman bunga, lalu saat mereka saling menukar barang kenangan, dsb.
RATING = Ini kita istilahkan sebagai survey jumlah penonton yang menyaksikan tayangan di televise, dalam hal ini termasuk tayangan sinetron yang cerita dan skenarionya kita tulis. Survei ini dilakukan oleh sebuah lembaga bernama AC NIELSON, yang sudah diakui kredibilitasnya oleh masyarakat pertelevisian di Indonesia. Setiap minggunya pihak ini akan memebrikan lembaran hasil surveinya ke semua stasiun televise dan PH, di lembaran itu akan terlihat urutan tayangan mulai dari yang terbanyak penontonnya, hingga yang paling sedikit. RATING sampai saat ini masih menjadi tolok ukur tayangan di Indonesia. RATING tinggi berarti tayangan dianggap laku dan secara bisnis menguntungkan PH/ Broadcast, sehingga diproduksi terus, sebaliknya bila RATING rendah maka tayangan akan cepat dihentikan agar tidak merugikan produksi.
SCENE = Kata lain dari adegan, yaitu bagian terkecil dari sebuah cerita.
SCENARIO = Artinya sama dengan scenario, hanya masalah perbedaan bahasa saja, penulisan menggunakan “K” karena sudah diindonesiakan.
SCREENPLAY = Artinya juga sama dengan Scenario/ Skenario.
SCRIPTWRITER = Orang yang kerjanya membuat/ menulis scenario atau disebut juga Penulis Skenario.
SEQUENCE = Kata lain dari Babak, yaitu kumpulan dari beberapa adegan.
SLOW MOTION = Gerakan yang terlihat lebih lambat dari biasanya. Hal ini biasanya digunakan untuk menampilkan adegan yang sangat dramatis. Misalnya, adegan seorang tokoh ditembak dari belakang. Saat si tokoh jatuh, gerakan bisa saja dibuat SLOW MOTION agar lebih terkesan dan menyentuh perasaan penontonnya.
SOUND EFFECT = Biasanya dalam penulisan digunakan istilah FX, maksudnya suara yang dihasilkan di luar suara mausia dan ilustrasi musik. Misalnya, suara telepon berdering, bel tanda masuk sekolah, suara alat dapur berjatuhan, dsb.
SPLIT SCREEN = Dua adegan berbeda yang muncul pada satu layer. Bisa kita pisahkan dengan garis vertical atau horizontal. Pada penulisan dalam scenario bisa kita pakai saat ingin menggambarkan adegan telepon yang menampilkan ekspresi kedua tokoh secara bersama-sama.
TEASER = Adegan gebrakan, ditampilkan pada pembukaan/ awal cerita, yang tujuannya memancing penonton untuk menyaksikan kelanjutan cerita di belakangnya. Teaser bisa berupa sebuah scene/ adegan baru yang diciptakan oleh penulis scenario, bisa juga cuplikan adegan paling menarik/ konflik utama yang sudah ada dalam scenario.
VOICE OVER (VO) = Dialog yang terdengar tapi tidak tampak di gambar, misalnya terdengar orang berbicara dari ruang sebelah. Atau, bisa juga orangnya tampak, suaranya terdengar, tapi bibirnya tidak bergerak, jadi dia terlihat berbicara dalam hati.

Selengkapnya...

Senin, Februari 06, 2017

Canon: Movie recording has stopped automatically

Buat yang pernah record video menggunakan kamera DSLR Canon tentu pernah mengalami kejadian dimana kamera berhenti merekam video secara otomatis (Movie recording has stopped automatically).
 
Ilustrasi nya kurang lebih seperti ini:
SD card yang digunakan pasti class 2 dengan kapasitas sekitar 4Gb, kapasitas disini tidak berpengaruh, meskipun kapasitasnya 160GB bila class nya tidak memenuhi syarat proses perekaman video tidak akan berhasil.

silahkan baca halaman 181 disana disebutkan perekaman video akan berhenti ketika file mencapai 4GB dengan durasi waktu sekitar 12 menit artinya 4GB = 4096MBps 12 menit = 720 detik.
bila 4096 : 720 = 5.7MBps kenyataan nya besaran file dalam setiap detik yang di hasilkan EOS 550D, 600D dan 60D antara 5.7 sampai 7 MBps (Megabyte per detik), tergantung dari kondisi / kualitas cahaya dan warna yang ada saat perekaman tersebut. setiap hasil foto pun memiliki file yang berbeda beda. silahkan di cek

Pada saat perekaman video, file yang di hasilkan katakan 6MB dalam setiap detiknya, maka file tersebut akan di transfer dari kamera ke sd card pada saat itu juga. ketika kemampuan baca tulis sd card tersebut di bawah 6MBps maka proses transfer ini akan terhambat. saat delay inilah kamera menghentikan proses perekaman secara otomatis karena data dari kamera tidak bisa di pindahkan ke sd card.
 
Ada beberapa hal yang menyebabkan kejadian tersebut, diantaranya adalah:
  1. Kecepatan tulis kartu memori kurang. Saat kita merekam video menggunakan kamera Canon dengan pengaturan resolusi video HD (1280x720) atau fullHD (1920x1080) maka kita membutuhkan kartu memori dengan spesifikasi minimal Class 6, karena bitrate video yang dihasilkan kamera Canon ini lumayan besar sehingga membutuhkan kartu memori yang bisa ditulis dengan cepat. Jika saat membeli kamera dalam bentuk paketan (tripod, kartu memori, screen guard), biasanya kita hanya diberi kartu memori dengan Class 4 yang mempunyai kecepatan baca tulis cukup lambat. Memori Class 4 ini hanya cocok digunakan untuk Photo saja, atau jika nekat mau digunakan untuk video, dia hanya mampu untuk resolusi SD (640x480).Karena memori Class 6 cukup sulit didapatkan, maka paling masuk akal adalah membeli kartu memori dengan Class 10. Saya sendiri menggunakan kartu memori merk Transcend 16 GB Class 10 dengan kecepatan baca tulis sekitar 20 MB/s.
  2. Kamera atau memori butuh pemanasan. Saat kamera baru dihidupkan setelah penggantian battery atau kartu memori, sering juga terjadi perekaman berhenti sendiri. Saya kurang tahu alasan ilmiah untuk kasus yang satu ini. Jika hal ini terjadi, biasanya saya akan mencoba dan mencoba merekam lagi. Terkadang perekaman berhenti sampai 3 atau 4 kali sampai akhirnya berjalan dengan normal.
  3. Terlalu sering menghapus data photo atau video pada kartu memori tanpa memformatnya juga bisa menyebabkan perekaman berhenti sendiri. Menurut yang saya baca, alasannya adalah ruang data di kartu memori terbelah² menjadi beberapa bagian ketika kita menghapus file, sehingga saat kamera akan berhenti sendiri ketika mengisi ruang kosong yang berukuran kecil karena ruangan itu tidak mampu menampung data lagi.
  4. Kamera kepanasan. Suhu yang terlalu panas bisa menyebabkan kamera mengalami overheat (melewati batas kemampuan kamera menahan panas). Saya pernah mengalaminya pada malam hari saat merekam di dalam masjid saat pengajian yang dihadiri cukup banyak orang.
  5. Ukuran file sudah mencapai 4GB. Kartu memori yang digunakan oleh kamera rata² menggunakan format FAT. Format FAT ini hanya mampu menyimpan 1 file dengan ukuran maksimal 4 GB atau kira² 12 menit video fullHD. Pada kamera Canon model lama (550D dan 600D) perekaman video akan otomatis berhenti ketika ukuran file sudah mencapai 4GB. Sedangkan pada kamera Canon yang lebih baru perekaman akan dilanjutkan hingga 30 menit dengan catatan video akan terbagi menjadi beberapa file (4 GB per file).
  6. Perekaman sudah mencapai batas 29 menit 59 detik. Di Eropa sana ada peraturan yang menyatakan bahwa kamera photo hanya boleh merekam video maksimal 29:59, jika lebih dari itu maka akan dianggap sebagai kamera video dan akan dikenakan pajak yang jauh lebih tinggi. Oleh karena itu, maka kebanyakan kamera photo yang mempunyai kemampuan merekam video akan membatasi durasinya untuk menekan harga.
Itu tadi beberapa hal yang bisa menyebabkan kamera DSLR Canon berhenti merekam video secara otomatis (Movie recording has stopped automatically). Semoga bermanfaat.

Selengkapnya...

Jumat, Januari 06, 2017

Cara Benar dan Praktis Memperbaiki Foto yang Corrupt atau Rusak


Memperbaiki Foto yang Corrupt atau Rusak pada memory kamera

Kita mungkin pernah menemukan file foto seperti gambar dibawah ini:

File Foto yang Corrupt
file foto tidak bisa dibuka


File Foto Setengah Rusak
Penyebab File Foto Rusak atau Corrupt
Mungkin kita bertanya-tanya kenapa sebuah file foto bisa seperti itu (diatas). Dari beberapa kasus yang penulis temukan, hal ini disebabkan oleh beberapa hal diantaranya:

  • Media penyimpanan (memory, flashdisk, hardisk, CD dll) yang sudah lama
  • Cara menggunakan media penyimpanan yang sembrono tanpa memikirkan keamanan file didalamnya
  • Sering mencabut dan memasang media penyimpanan ketika sedang digunakan pada komputer
  • Bahkan bisa juga disebabkan oleh tekanan listrik yang turun naik
  • Tentu saja ketika komputer mati secara tiba-tiba karena putusnya arus listrik masalah ini juga dapat terjadi
Tulisan ini merupakan kejadian yang penulis alami sendiri saat memperbaiki memory kamera seorang pelaksana proyek pembangunan infrastruktur masyarakat didaerah tempat penulis berdomisili.

Disodorkan memory kamera yang filenya corrupt tentu tantangan tersendiri juga, hehe. Maklum berdasarkan informasi dari pemilik memory ini, file atau memory tersebut sudah dicoba dibawa ke beberapa tempat namun belum ada yang berhasil memperbaikinya.

Langsung saja browsing menggunakan internet, searching disemua search engine seperti google, penulis menemukan beberapa aplikasi yang dikatakan mudah untuk memperbaiki file yang rusak ini.

Namun penulis sendiri jatuh hati pada software yang berikut ini, karena beberapa software atau aplikasi yang dicoba, aplikasi ini layak diacungi jempol.

Stellar Phoenix Photo Recovery dan Stellar Phoenix JPEG Repair yaaa, ini software tersebut. Berikut tampilan screenshot dari aplikasi softwarenya.
Stellar Phoenix Photo Recovery

Stellar Phoenix JPEG Repair
Cara Menggunakan Software
Bagi pengunjung yang belum pernah mencoba aplikasi software ini, ikuti saja panduan instalasi dan pemakaian software dibawah ini, penulis jamin mudah menggunakannya.

  • Download terlebih dahulu Stellar Phoenix Photo Recovery disini 
  • Download juga Stellar Phoenix JPEG Repair disini
  • Setelah di download silahkan install seperti gambar dibawah ini




  • Selesai Install agar aplikasi menjadi full jangan lupa registrasi, gunakan key yang sudah ada pada file download diatas
  • Untuk recovery perhatikan gambar dibawah ini
  • Perhatikan juga gambar dibawah ini untuk panduan lebih lanjut
  • Nah Selesai Bagian Recovery File :-)
Jika pengunjung menemukan file foto yang rusak atau setengah saja foto yang muncul seperti gambar diatas, maka kita dapat menggunakan Stellar Phoenix JPEG Repair (sudah disertakan pada file download diatas). Cara menggunakannya hampir sama seperti foto recovery diatas


    Demikian artkel kali ini tentang Cara Benar dan Praktis Memperbaiki Foto yang Corrupt atau Rusak, semoga pengunjung yang mencoba cara ini benar-benar berhasil melakukannya, semoga tulisan ini bermanfaat dan berguna bagi pengunjung dan bagi kita semua. Jangan lupa tinggalkan komentar ya :-)

    Selengkapnya...

    Selasa, Mei 31, 2016

    Pengertian Kamera 4K Digital Video Fotografi

    Pengertian Kamera 4K Digital Video Fotografi pada kamera kekinian. Mungkin kita sering mendengar kamera 4K, tapi tidak tahu maksudnya, apa kamera merek 4k, apa kamera seri 4K dan sebagainya. Bahkan saya sempat menanyakan kepada teman saya yang sesama fotografer, kamera 4K itu apa? malah teman saya balas menjawab itu kamera canon atau nikon? nah sama malah juga ikut bingung, oke mari kita pelajari bersama-sama apa itu kamera 4k.

    Pengertian Kamera 4K

    Pengertian Kamera 4K adalah kamera yang resolusinya Ultra HD atau Ultra High Definition kualitas Cinema, 
    Pengertian Kamera 4K 
    yaitu sebuah generasi baru setelah resolusi HDTV  (sumber: PC Mag Asia). 4K berarti 4000 pixel untuk ukuran layar width atau horizontal (sumber: wikipedia).

    Pengertian Kamera 4k 

    Jadi jika kita mendengar kamera 4k, itu bukan merek sebuah kamera ataupun seri sebuah kamera, tetapi salah satu fitur Teknologi dari kamera tersebut.
    Teknologi baru 4K pada kamera memungkinkan pengguna untuk menangkap video yang tajam kemudian ketika mengedit tanpa takut kehilangan kualitas gambar – Brian Pridgeon (director of Product Marketing Management at SanDisk dalam wawancaranya di www.digitaltrends.com)

    Kelebihan dari Kamera 4K

    Kelebihan Kamera 4K menurut Sam Nicholson (Chairman and CEO of Stargate Studios)
    4K gives us much more control in post-production over our images. Resizing, cropping, stabilization, and smaller grain (less noise) all benefit from increased resolution. Personally, I’m from an intensive visual-effects background and 4K gives me many more options to manipulate each picture frame. I feel 4K is essential for heavy post-manipulation of your images.
    Kelebihan Kamera 4K menurut David Newton (Fotografer dan Jurnalis)
    The most obvious benefit of 4K is the resolution. With an HD frame being around 2 megapixels and a [4K UHD] frame being 8 megapixels. The detail is staggering. While there is currently limited ability to output 4K due to the price and availability of 4K televisions, being able to shoot in 4K helps differentiate yourself from others. Additionally, shooting in 4K is a method of future proofing. Since 4K will become ever more mainstream over the next 12-24 months, having 4K footage now helps keep me at the front of the curve.

    Contoh Kamera Yang menggunakan Teknologi 4K

    Kamera 4K Panasonic Lumix DMC-GH4GC 
    PANASONIC Lumix DMC-GH4GC, Digital Live MOS Sensor, 16.5 Megapixels, UHD 4K 3840×2160, DCI 4K 4096×2160, Full HD up to 60p, 3.0″ OLED Touchscreen Monitor, Wi-Fi + NFC Connection. Panasonic Lumix DMC-GH4GC merupakan salah satu kamera mirrorless profesional dengan kemampuan mengambil gambar beresolusi tinggi dan rekaman video hingga resolusi 4K.

    Kamera 4K SONY Cybershot DSC-RX100 IV 
    Sony Cyber-shot DSC-RX100 IV 20.2 MP Digital Still Camera, 20.1 Megapixels, 1.0″ type (13.2mm x 8.8mm) Exmor R CMOS Sensor, Internal UHD 4K Video, 2.9x Optical Zoom, 44x Digital Zoom, 5.8x Clear Image Zoom, 3.0″ TFT LCD, Built-In Wireless and NFC Connectivity, BIONZ Image Processor. Lensa Carl Zeiss Vario-Sonnar, f/1.8 (W) – 2.8 (T) to f/11.

    Kamera 4K Gopro Hero 4 Black Edition 
    GOPRO HERO4 Black Edition, Full HD 3840 x 2160p, 12 Megapixels, Ultra Wide Angle Glass Lens + SuperView, Camera Housing Waterproof to 131′, MicroSD Card Slot, Built-In Wi-Fi dan GoPro App Ready, Micro HDMI , Supports 4K, 2.7K, 1080p60 Video. Kamera GOPRO HERO 4 BLACK dapat menangkap gambar dengan resolusi 4K dan merekam video dengan resolusi 2.7K, dan resolusi ini bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan ActionCam lain dengan resolusi HD.
    Selengkapnya...

    Kamis, Februari 04, 2016

    Mengenal Teknik Lighting Low-key & High Key

    Dalam fotografi terkenal ada istilah high key and low key. Secara sederhana maksud high key adalah fotografi yang nuansa cahayanya terang, sedangkan low key adalah fotografi yang nuansa cahayanya gelap.

    Biasanya teknik high-key dan low key ini banyak disebut-sebut untuk pemotretan portrait manusia, terutama dalam setting studio/indoor, dimana fotografer mengendalikan penuh sifat cahaya, arah, penyebaran, dan intensitas cahaya.


    TEKNIK FOTO LOW KEY

    Low key cocok untuk memberikan nuansa misterius, kesedihan ke dalam foto. Biasanya digunakan untuk foto kedukaan, portrait misterius, dan yang tema foto yang menyeramkan (horror).

    Cara memotret low key adalah mempersiapkan latar belakang yang bernuansa gelap, seperti hitam atau warna tua. Pilihlah pakaian yang juga gelap seperti warna hitam. Pengaturan exposure tidak harus di nol, tapi justru agak digelapkan supaya suasana gelapnya lebih kentara.

    Light modifier (pembentuk cahaya) yang dipasang di depan lampu kilat yang efektif biasanya yang membatasi penyebaran cahaya seperti: standard reflector dengan honeycomb, strip softbox (30x125cm), barn door, dan snoot.

    Untuk pemotretan portrait low key, biasanya tantangannya adalah mengarahkan cahaya ke bagian yang bagus dan membatasi cahaya untuk tidak menerangi hal-hal yang tidak diinginkan.

    Kita perlu mengamati subjek secara seksama, dan kemudian memutuskan light modifier apa yang digunakan, dan juga ke arah mana. Sebaliknya, kita juga harus menentukan bagian yang kurang begitu menarik untuk tidak disinari sehingga tertutup oleh bayangan.

    Pose dan ekspresi subjek juga menentukan keberhasilan foto low key. Perlu komunikasi dan kerjasama antara fotografer dan subjek foto yang baik untuk menghasilkan foto low key yang menarik.


    TEKNIK FOTO HIGH KEY

    Foto high key cocok untuk memberikan suasana cerah, gembira, dan cantik. Foto high key banyak digunakan untuk foto keluarga, foto kecantikan (beauty), foto anak dan bayi. Di dalam foto pemandangan, foto high key sering kita jumpai saat memotret salju atau saat berkabut.

    Cara memotret high key adalah memilh latar belakang yang berwarna cerah seperti putih, atau warna terang seperti kuning. Untuk portrait, warna pakaian dan aksesoris juga harus disesuaikan.

    Jika mengunakan cahaya yang konstan (bersinar secara kontinyu), maka pengaturan exposure harus disesuaikan ke arah + (lebih terang dari pengukuran/metering kamera).

    Light modifier yang dipasang di depan lampu kilat yang efektif biasanya yang berukuran cukup besar sehingga dapat membanjiri subjek dan background dengan cahaya. Antara lain: softbox berukuran besar(80x120cm), oktabox (150cm), background reflector, dan beauty dish (70cm).

    Dengan mengunakan light modifier berukuran besar, penyebaran cahaya luas dan cahaya yang jatuh ke subjek bersifat halus. Cahaya yang halus sangat baik untuk pemotretan beauty/kecantikan. Karena cahaya yang menyebar akan mengisi pori-pori, keriput di wajah sehingga terlihat mulus.

    Biasanya tantangan yang ditemui di foto high key adalah kita harus benar-benar pintar dan kreatif dalam mengarahkan pose dan gaya. Dengan komunikasi yang baik, kita bisa mendapatkan ekspresi atau momen-momen menarik yang tak terduga.

    http://inet.detik.com/read/2013/04/24/094513/2228839/1277/mengenal-teknik-lighting-low-key--high-key
    Selengkapnya...