Selamat Datang di Blog Moko Yuliatmoko

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, Mei 09, 2017

Ko Kurikuler dan Ekstrakurikuler

Beban kerja guru secara eksplisit telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, namun demikian, masih diperlukan penjelasan tentang rincian penghitungan beban kerja guru dengan mempertimbangkan beberapa tugas-tugas guru di madrasah selain tugas utamanya sebagai pendidik. Beban kerja guru adalah sekurang-kurangnya 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dan sebanyak-banyaknya 40 (empat puluh) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu, sesuai dengan sertifikat pendidik yang dimilikinya.

Pemenuhan beban kerja guru adalah kewajiban minimal yang dibebankan kepada guru yang telah bersertifikat pendidik baik guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil (GBPNS)untuk dapat dibayarkan tunjangan profesi atau sebutan sejenis lainnya.
           
Berikut ini adalah Kegiatan pembelajaran ko-kurikuler dapat diperhitungkan sebagai jam tatap muka dengan ketentuan diantaranya adalah sebagai berikut:
                       
1.     Dilaksanakan secara terstruktur, terjadwal, dan klasikal;
2.     Guru pembimbing adalah guru mata pelajaran terkait;
3.     Guru pembimbing ditetapkan oleh kepala madrasah melalui Surat Keputusan;
4.     Setiap kegiatan ko-kurikuler disetarakan : dengan 2 (dua) jam tatap muka per minggu untuk kegiatan yang diikuti oleh paling sedikit 15 (lima belas) siswa per kelompok; dan
5.     Setiap kelompok kegiatan ko-kurikuler dibimbing oleh seorang Guru.

Kegiatan yang termasuk ko-kurikuler adalah sebagai berikut:
1.     Bimbingan baca tulis AI-Qur'an untuk mata pelajaran Al-Qur'an- Hadis;
2.     Bimbingan kaligrafi Arab untuk mata pelajaran Bahasa Arab; dan
3.     Bimbingan seni tari, drama/ teatcr, atau seni pertunjukan untuk mata pelajaran Seni dan Budaya
Untuk kegiatan ekstra kurikuler yang dapat diperhitungkan sebagai jam tatap muka adalah sebagai berikut:
                       
1.     Pramuka;
2.     Organisasi Intra Sekolah/OSIS;
3.     Palang Merah Remaja/PMR;
4.     Olimpiade /Lomba Mata Pelajaran;
5.     Karya Ilmiah Remaja/KIR;
6.     Olahraga;
7.     Kesenian;
8.     Keagamaan Islam;
9.      Pasukan Pengibar Bendera/Paskibra;
10.   Pecinta Alam;
11.   Jurnalistik atau Fotografi;
12.   Usaha Kesehatan Sekolah/UKS; dan
13.   Kewirausahaan.
  
Setiap jenis kegiatan ekstra kurikuler sebagaimana diatas disetarakan dengan 2 (dua) jam tatap muka per minggu. Setiap jenis kegiatan ekstra kurikuler harus diikuti paling sedikit oleh 15 (lima belas) siswa. dan Setiap jenis kegiatan ekstra kurikuler se dibimbing oleh seorang pembimbing.
           

Selengkapnya...

Senin, Mei 01, 2017

Perbedaan Kegiatan Intrakurikuler, Kokurikuler dan Ekstrakurikuler

Dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah dikenal adanya tiga kegiatan pokok, yaitu kegiatan Intrakurikuler, Kokurikuler dan Ekstrakurikuler. Ketiga kegiatan tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang tak terpisahkan dalam upaya mencapai tujuan pendidikan keseluruhan pada suatu satuan pendidikan/ sekolah.

Kegiatan Intrakurikuler

Kegiatan Intrakuriluler adalah kegiatan utama persekolah yang dilakukan dengan menggunakan alokasi waktu yang telah ditentukan dalam struktur program. Kegiatan ini dilakukan guru dan peserta didik dalam jam-jam pelajaran setiap hari. Kegiatan intrakurikuler ini dilakukan untuk mencapai tujuan minimal setiap mata pelajaran/ bidang studi yang tergolong inti maupun khusus.

Kegiatan Kokurikuler

Kegiatan kokurikuler merupakan kegiatan yang dimaksudkan untuk lebih memperdalam dan menghayati materi pelajaran yang telah dipelajari dalam kegiatan intrakurikuler didalam kelas. Kegiatan ini dapat dilakukan secara individual maupun kelompok. Dalam hal ini, perlu diperhatikan ialah menghindari terjadinya pengulangan dan ketumpang-tindihan antara mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran lainnya. Selain itu, juga perlu dijaga agar para siswa tidak "overdosis" karena semua  guru memberi tugas dalam waktu yang bersamaan, sehingga siswa menanggun beban yang sangat berat. Oleh karena itu, koordinasi dan kerja sama antar guru merupakan hal perlu dilakukan.

Dari pokok-pokok landasan pelaksanaan kegiatan kokurikuler, hal-hal yang harus diperhatikan guru dalam merancang dan melaksanakan kegiatan kokurikuler adalah sebagai berikut :
  • Kegiatan kokurikuler merupakan kegiatan yang berkaitan langsung dengan kagiatan intrakurikuler. Tujuannya, untuk memberikan kesempatan kepada siswa mendalami dan manghayati materi pelajaran.
  • Tidak menimbulkan beban berlebihan bagi siswa
  • Tidak menimbulkan tambahan beban biaya biaya yang dapat memberatkan siswa atau orangtua
  • Penanganan kegiatan kokurikuler dilakukan dengan sistem administrasi yang teratur, pemantauan dan penilaian
    Kegiatan Ekstrakurikuler

    Kegiatan ekstrakurikuler dimaksudkan sebagai kegiatan yang diarahkan untuk memperluas pengetahuan siswa, mengembangkan nilai-nilai atau sikap dan menerapkan secara lebih lanjut pengetahuan yang telah dipelajari siswa dalam mata pelajaran program inti dan pilihan. Walaupun sama-sama dilaksanakan diluar jam pelajaran kelas, bila dibandingkan dengan kegiatan kokurikuler, kegiatan ekstrakurikuler lebih menekankan pada kegiatan kelompok

    Kegiatan ekstrakurikuler dilakukan dengan memperhatikan minat dan bakat siswa, serta kondisi lingkungan dan sosial budaya. Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler ditangani oleh guru atau petugas lain yang ditunjuk.

    Kegiatan ekstrakurikuler diisi dengan kegiatan olahraga seperti bola basket, bola voli, pencak silat dan lainnya yang disesuaikan dengan minat dan bakat siswa. Bagitupula dengan dibidang-bidang lain, seperti bidang seni bisa diisi dengan drama, lukis, tari. Keseluruhan bidang ditujukan sebagai wahana untuk mempeluas wawasan serta membangun nilai dan sikap positif siswa.
    Selengkapnya...

    Senin, November 16, 2015

    Cara Mengambil Sebagian Teks dari Sel Ms Excel

    Teks merupakan bagian penting dari data kita di microsoft excel. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan dengan teks. Data yang kita miliki bisa saja berupa meupakan data mentah berupa teks yang berasal dari program atau aplikasi lain. Kemudian kita tinggal membaginya menjadi beberapa kolom sesuai dengan data yang kita inginkan. Contoh lain, seorang pegawai administrasi memiliki sederet nomor induk mahasiswa dengan kode jurusan dan program studi berada ditengah-tengah, kemudian pegawai tersebut ingin membuat daftar dari jurusan dan program studi tertentu saja, dan masih banyak lagi contoh lainnya. Semua hal tersebut dapat kita lakukan dengan cara memanipulasi teks yang ktia miliki.

    Ada beberapa fungsi teks yang biasa digunakan untuk mendapatkan teks dari sebuah sel atau tulisan, yakni LEFT(), RIGHT() dan MID(). LEFT() akan mengambil teks dari kiri tulisan, RIGHT() akan mengambil dari kanan / belakang tulisan, sedangkan MID() untuk mengambil teks yang berada ditengah-tengah tulisan. Berikut format penggunaannya :

    • LEFT( text, panjang_teks_dari_kiri)
    • RIGHT( text, panjang_teks_Dari_kanan)
    • MID( text, posisi_awal_karakter, panjang_teks_dalam_karakter)

    Misalkan kita memiliki sel A1 yang berisi teks "Microsoft Excel 2007".
    • =LEFT(A1, 5) akan memberikan hasil "Micro"
    • =RIGHT( A1, 4) akan memberikan hasil "2007".
    • =MID( A1, 11, 5) akan memberikan hasil "Excel"
    • =MID( A1, 1, 5) akan memberikan hasil "Micro"
    • =MID( A1, LEN(A1)-3, 4) akan memberikan hasil "2007"


    Dapat dilihat bahwa fungsi MID bisa saja menggantikan fungsi LEFT() dan RIGHT(). Selain itu kita juga bisa menggunakan bantuan fungsi teks yang lain seperti LEN() yang akan memberikan hasil panjang teks atau tulisan, fungsi FIND() dan SEARCH() untuk mencari nilai posisi teks (dalam satuan karakter) yang dicari dalam sebuah tulisan. 

    Oke kita lanjut saja dengan contoh aplikasi pengambilan sebagian teks dari sebuah sel atau tulisan di microsoft excel.

    Mencari kode jurusan dari sebuah Nomor Induk Mahasiswa (NIM)

    Misalkan kita memiliki sederet NIM 10071059, 11322147, 11411436, dsb yang terletak di sel A1, A2, A3, dst dengan format kode NIM adalah AABBCDDD dimana AA adalah tahun masuk, BB adalah jurusan, C adalah Program Studi, dan DDD adalah nomor urut. Untuk mendapatkan kode jurusan dari nim tersebut adalah =MID( A1, 3, 2) sedangkan untuk mendapatkan kode Jurusan =MID( A1, 5, 1). Untuk selanjutnya anda tinggal mengkopi saja dari kedua rumus tersebut.

     Gambar: Cara mengambil kode jurusan di Microsoft Excel

    Cara Mendapatkan nama depan dan nama belakang

    Untuk mendapatkan nama depan dan belakang kita mengasumsikan nama lengkap hanya terdiri dari dua buah kata dan dipisahkan oleh sebuah spasi.
    Misalkan nama lengkap berada di sel A2. Maka anda dapat menggunakan rumus untuk nama depan =LEFT(A2, FIND(" ",A2 & " ")), sedangkan untuk nama belakang=MID(A2,FIND(" ",A2),LEN(A2))

     Gambar: Cara mengambil nama depan dan nama belakang di Microsoft Excel

    Memisahkan Tempat dan Tanggal Lahir


    Tempat dan tanggal lahir biasanya ditulis menggunakan format nama tempat, tanggal lahir. Contoh nya seperti Medan, 17 Januari 1990. Nama tempat dan tanggal lahir dipisahkan dengan tanda koma. Seperti halnya cara mendapatkan nama depan dan belakang, kita harus menggunakan bantuan fungsi FIND() untuk menemukan lokasi koma. Untuk mendapatkan nama tempat lahir gunakan rumus =LEFT(A2, FIND(",",A2 & ",")-1) sedangkan untuk mendapatkan tanggal lahir gunakan rumus=TRIM(MID(A2,FIND(",",A2)+1,LEN(A2))).

     Gambar: Cara mengambil tempat dan tanggal lahir di Microsoft Excel


     

    Tips Cara Mengambil Sebagian Teks dari Sel Microsoft Excel

    Microsoft excel memiliki berbagai fungsi yang dapat digunakan untuk manipulasi teks atau string. Anda dapat menggunakan fungsi tersebut sesuai dengan kebutuhan anda. Yang paling penting, untuk pengambilan sebagian teks dari teks atau tulisan adalah anda harus tahu persis apa yang hendak anda lakukan. Biasanya fungsi-fungsi seperti IF(), LEN(), TRIM(), FIND() dan SEARCH() turut dipakai ketika menggunakan fungsi-fungsi teks seperti LEFT(), RIGHT(), dan MID(). Fungsi IF() digunakan untuk memilih, LEN() akan memberikan nilai berupa panjang teks, TRIM() akan membuang semua spasi di kiri dan kanan teks, sedangkan FIND() dan SEARCH() untuk menemukan (sebagian) teks dalam teks yang lain. 

    Sebagai contoh, lihat penggunaan fungsi LEN() berikut : 

    =MID( A1, 7, LEN(A1) )

    contoh rumus tersebut akan mengambil teks yang ada di sel A1 mulai dari posisi / karakter ke 7 hingga akhir teks,berapapun panjang teks tersebut. Spasi juga dianggap sebagai sebuah karakter. Gunakan fungsi TRIM() untuk menghilangkan spasi yang terletak di awal dan akhir teks. Selengkapnya...

    Kamis, Oktober 08, 2015

    Contoh Soal UKG Pedagokik

    silakan kalau mau belajar, jawaban dan soal tidak dipertanggungjawabkan kebenarnnya, hanya untuk belajar saja.

    unduh disini
    Selengkapnya...

    Rabu, Mei 08, 2013

    LKS Kabupaten Cilacap

    Tanggal 27-28 Mei 2013 Kabupaten Cilacap akan melaksanakan LKS tingkat kabupaten. Selengkapnya...

    Selasa, April 30, 2013

    Tes Formatif dan Sumatif

    Formatif
    Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan / topik, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manakah suatu proses pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. 
    Winkel menyatakan bahwa yang dimaksud dengan evaluasi formatif adalah penggunaan tes-tes selama proses pembelajaran yang masih berlangsung, agar siswa dan guru memperoleh informasi (feedback) mengenai kemajuan yang telah dicapai.
    Sementara Tesmer menyatakan formative evaluation is a judgement of the strengths and weakness of instruction in its developing stages, for purpose of revising the instruction to improve its effectiveness and appeal. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengontrol sampai seberapa jauh siswa telah menguasai materi yang diajarkan pada pokok bahasan tersebut.
    Wiersma menyatakan formative testing is done to monitor student progress over period of time. Ukuran keberhasilan atau kemajuan siswa dalam evaluasi ini adalah penguasaan kemampuan yang telah dirumuskan dalam rumusan tujuan (TIK) yang telah ditetapkan sebelumnya. TIK yang akan dicapai pada setiap pembahasan suatu pokok bahasan, dirumuskan dengan mengacu pada tingkat kematangan siswa. Artinya TIK dirumuskan dengan memperhatikan kemampuan awal anak dan tingkat kesulitan yang wajar yang diperkiran masih sangat mungkin dijangkau/ dikuasai dengan kemampuan yang dimiliki siswa.
    Dengan kata lain evaluasi formatif dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai. Dari hasil evaluasi ini akan diperoleh gambaran siapa saja yang telah berhasil dan siapa yang dianggap belum berhasil untuk selanjutnya diambil tindakan-tindakan yang tepat. Tindak lanjut dari evaluasi ini adalah bagi para siswa yang belum berhasil maka akan diberikan remedial, yaitu bantuan khusus yang diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan memahami suatu pokok bahasan tertentu. Sementara bagi siswa yang telah berhasil akan melanjutkan pada topik berikutnya, bahkan bagi mereka yang memiliki kemampuan yang lebih akan diberikan pengayaan, yaitu materi tambahan yang sifatnya perluasan dan pendalaman dari topik yang telah dibahas.
    Sumatif
    Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan waktu yang didalamnya tercakup lebih dari satu pokok bahasan, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah dapat berpindah dari suatu unit ke unit berikutnya.
    Winkel mendefinisikan evaluasi sumatif sebagai penggunaan tes-tes pada akhir suatu periode pengajaran tertentu, yang meliputi beberapa atau semua unit pelajaran yang diajarkan dalam satu semester, bahkan setelah selesai pembahasan suatu bidang studi.
    Selengkapnya...

    Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT

    Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Heads Together)
    A. Tinjuan Tentang Model Pembelajaran Kooperatif
    Pembalajaran kooperatif merupakan metode pembelajaran yang menuntut siswa balajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari empat atau lima siswa dengan kemampuan atau intelegensi yang heterogen. Jadi dalam pembelajaran kooperatif ini siswa bekerja sama dalam kelompok yang terdiri dari siswa yang berkemamapuan rendah, sedang dan tinggi untuk bertukar pikiran dalam memcahkan masalah ( Muclich, 2007).

    Selanjutnya, menurut Lie (2002) pembelajaran kooperatif didefinisikan sebagai sistem kerja/belajar kelompok yang terstruktur dimana dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerjasama dan membantu untuk memahami suatu bahan pelajaran. Belajar belum selesai jika salah satu dari teman dalam,kelompok belum menguasai bahan pelajaran. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Heads Together)
    Roger dan David Johnson dalam Lie (2002) mengatakan bahwa dalam pembelajaran kooperatif terdapat lima unsur model pembelajaran yang harus diterapkan yaitu:

    1. Saling ketergantungan positif
    keberhasilan suatu karya sangat tergantung pada suatu usaha setiap individu. Untuk mencapai kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas kelompok yang menuntut siswa kerja sama dan beriteraksi sehingga setiap anggota harus menyelesaikam tugasnya agar semua siswa mencapai tujuan yang diharapkan. Selanjutya, pengajar akan mengevaluasi siswa, dengan cara ini setiap siswa mau tidak mau setiap siswa merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya agar semua siswa bisa berhasil.

    2. Tanggung jawab perseorangan
    pengajar yang efektif dalam pembelajaran cooperative learning akan membuat persiapan dan menyusun tugas untuk setiap kelompok sehingga menjadi masing-masing aggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas berikut dapat dilaksanakan. Siswa yang tidak melaksanakan tugasnya akan diketahui dengan jelas dan mudah. Anggota dalan suatu kelompok akan menuntutnya untuk melaksanakan tugas agar tidak terhambat siswa yang lainnya. /p>

    3. Tatap muka
    setiap anggota kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memeberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatnya kelebihan dan mengisi kekurangan masing-masing.

    4. Komunikasi antar anggota
    Unsur ini juga menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi. Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada ketersediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dalam mengutarakan pendapat mereka.

    5. Evaluasi proses kelompok
    Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih aktif.

    B. Tinjuan Tentang Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Heads Together)
    Pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) dikembangkan oleh Spencer Kagen untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam satu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Sebagai gantinya mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas, guru menggunakan struktur empat (4) langkah sebagai berikut:
    1. Penomoran
    Guru membagi siswa kedalam kelompok yang beranggotakan 4-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5.

    2. Mengajukan pertanyaan
    Guru mengajukan sebuah pertayaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi. Pertanyaan dapat bersifat spesifik dalam bentuk kalimat Tanya.

    3. Berfikir bersama
    Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan setiap anggota dalam teamnya mengetahui jawaban itu.

    4. Menjawab
    Guru memanggil satu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan, untuk seluruh kelas.
    Model ini mengacu kepada belajar kelompok. Anggota team menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menutaskan materi pelajarannya, kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran dan memecahkan suatu masalah melalui diskusi.

    C. Pengelolaan Kelas cooperative learning
    Pengelolaan kelas cooperative learning bertujuan untuk membina pembelajaran dalam mengembangkan kerja sama dan berinteraksi dengan siswa yang lainnya. Ada tiga hal yang penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas cooperative learning, yakni pengelompokan, semangat kooperatif dan dan penataan ruang kelas (Lie, 2007).

    1. Pengelompokan
    Pengelompokan heterogenitas atau keragaman merupakan ciri-ciri yang menonjol dalam pembelajaran kooperatif learninng. Kelompok heterogenitas bisa bentuk dengan memperhatikan keanekaragaman kemampuan akademis. Dalam hal kemampuan akademis, kelompok pembelajaran cooperative learning biasanya terdiri dari satu orang berkemampuan tinggi, dua orang berkemampuan sedang dan satu lainnya dari kelompok kemampuan akademis rendah.

    2. Semangat Gotong Royong
    Agar kelompok bisa bekerja secara efektif dalam proses pembelajaran kelompok perlu mempunyai semangat gotong royong. Semangat gotong royong ini bisa dirasakan membina niat kiat siswa dalam bekerja sama.

    3. Penataan Ruang Kelas
    Ruang kelas juga perlu ditata sedemikian rupa shingga menunjang pembelajaran cooperative learning. Keputusan guru dalam penataan ruang kelas harus disesuaikan dengan kondisi dan situasi ruang kelas dan sekolah. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan adalah:
    1. Ukuran ruang kelas
    2. Jumlah siswa
    3. Tingkat kedewasaan siswa
    4. Toleransi guru dan kelas sebelah terhadap kegaduhan dan lalu lalangnya siswa
    5. Toleransi masing siswa terhadap kegaduhan dan lalu lalangnya siswa lainnya
    6. Pengalaman guru dalam melaksanakan metode pembelajaran kooperatif learning
    7. Pengalaman siswa dalam melaksanakan metode pembelaaran kooperatif learning.
    Dalam metode pembelajaran cooperative learning, penataan ruang kelas perlu memperhatikan prinsip-prinsip tertentu, bangku perlu ditata sedemikian rupa sehingga semua siswa bisa melihat guru, papan tulis dan teman-teman kelompoknya dengan merata. Kelompok bisa dekat satu sama lain, tetapi tidak mengganggu kelompok yang lain.
    D. Ketuntasan Belajar
    Belajar tuntas merupakan strategi pembelajaran yang dapat dilaksanakan dari dalam kelas, dengan asumsi bahwa didalam kondisi yang tepat semua peserta didik akan mampu belajar dengan baik dan memperoleh hasil belajar secara maksimal terhadap seluruh bahan yang dipelajari (Mulyasa, 2002).

    Tujuan proses mengajar-belajar secara ideal adalah agar bahan yang dipelajari dikuasai sepenuhnya oleh murid. Ini disebut Mastery Learning atau belajar tuntas, artinya penguasaan penuh (Nasution, 1995).
    Ketuntasan belajar dapat dilihat secara kelompok atau secara perorangan, secara kelompok, ketuntasan belajar dinyatakan telah dicapai jika sekurang-kurangnya 85% dari siswa dalam kelompok yang bersangkutan telah memenuhi kinerja ketuntasan belajar yang secara kelompok. Secara perorangan, ketuntasan belajar telah dinyatakan terpenuhi jika seseorang (siswa) telah tercapai taraf penguasaan minimal yang ditetapkan bagi setiap bahan yang dipelajarinya.
    Faktor yang Mempengaruhi Ketuntasan Belajar

    Ketuntasan belajar dipengaruhi oleh daya serap siswa, dimana daya serap pada umumnya dipengaruhi oleh dua fakror yang dikemukakan oleh Pasaribu dan Simanjuntak dalam Pradita (2009) yaitu:
    • Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari individu siswa sendiri yang meliputi faktor fisik maupun mental yang ikut menentukan dan mempengaruhi berhasil tidaknya seseorang dalam belajar seperti kematangan, kondisi jasmani, keadaan alat indera, sikap batin dan minat.
    • Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar individu itu sendiri yang juga memepengaruhi berhasil tidaknya dalam belajar meliputi penghargaan dan hadiah.
    Menurut Ibrahim dan Benny dalam Pradita (2009) ada beberapa langkah atau cara yang dapat dilakukan dalam pengajaran antara lain:
    • Dalam belajar hendaknya guru menggunakan metode belajar yang bervariasi sebab dengan variasi tersebut diharapkan bebarapa perbedaan kemampuan siswa dapat terlayani.
    • Guru hendaknya memberikan bahan pelajaran tambahan kepada anak-anak yang pandai untuk mengimbangi kepandaiannya dan memberikan bantuan atau bimbingan khusus kepada anak-anak yang lamban dalam belajar.
    • Pemberian tugas-tugas hendaknya disesuaikan dengan minat dan kemampuan anak.
    Untuk diperlukan perencanaan yabg baik yaitu ketetapan pengguanaan model pembelajaran yang dipilih oleh guru. Tujuannya agar siswa dapat berperan aktif antar sesamanya dan dapat meningkatkan penguasaan meraka terhadap konsep yang sulit.

    E. Kerangka Berfikir
    Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Heads Together) siswa menggunakan lembar kerja serta diberikan kesempatan untuk terlibat langsung dalam megolah informasi sehingga siswa dapat saling berinteraksi dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang efektif dan bekerjasama untuk memahami materi pelajaran.
    Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numberd Heads Together) adalah lebih banyak melibatkan siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.
    Penyampaian materi biologi melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Heads Together) merupakan teknik yang baik dalam merangsang siswa untuk lebih aktif dan berfikir kritis karena siswa diberikan kesempatan untuk mencari sendiri pemecahan masalah dengan kerjasama kelompok sehingga mereka lebih mudah memahami materi. Untuk meningkatkan ketuntasan belajar siswa yang optimal terhadap pelajaran biologi perlu dilakukan proses belajar yang lebih baik dengan memperhatikan perkembangan anak didik dan sarana penunjang, salah satu upaya tersebut adalah dengan memgoptimalkan pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) merupakan teknik yang baik dalam merangsang siswa untuk aktif dan kreatif dalam pembelajaran. Jadi dengan penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Heads Together) dapat meningkatkan ketuntasan belajar siswa.


    Selengkapnya...

    Model pembelajaran

    Menurut Kiswoyo (1995:41) istilah "model" dalam konteks pembelajaran diartikan sebagai suatu pola kegiatan Guru-Siswa untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang terjadi pada diri Siswa sebagai akibat perbuatan mengajar dan belajar. Istilah lain yang juga digunakan dalam pengertian yang sama dikemukakan Joni (1980:6) adalah "strategi" belajar mengajar, atau siasat pengajaran (Munandir, 1987:9).Joice, Weil & Showers (1992:131) menggunakan istilah "model of teaching", yang diartikan sebagai "a plan or pattern that we can use to design face-to-face teaching in classroom or tutorial settings and to shape instructional materials - termasuk books, films, tapes, computer-mediated program dan curricula (long term course of study) ". Meskipun menyebut "models of teaching" mereka dalam konsep ini tidak memisahkan antara mengajar dan belajar, seperti dikatakan bahwa "models of teaching are really models of learning".

    Sedangkan Brady (1985) mendifinisikan model pembelajaran sebagai suatu blueprint(Kerangka dasar) yang dapat digunakan sebagai petunjuk untuk membuat atau menyusun persiapan pembelajaran dan kemudian memakainya.

    Menurut Munandir (1987:9), konsep tentang siasat pengajaran itu pada hakikatnya berusaha menjelaskan bagian-bagian dari suatu perangkat materi pengajaran dan prosedur-prosedur yang akan digunakan pada material tersebut, agar dapat menimbulkan hasil belajar tertentu untuk pelajar. Oleh karena itu bagian-bagian dari kegiatan yang mencakup dalam siasat pengajaran dapat dirumuskan menjadi komponen; (1) Aktivitas pra pengajaran, (2) Katering informasi, (3) Hebat dan siswa, (4) Aktivitas pengetesan, dan (5) Aktivitas tindak ikutan.

    Pembelajaran memiliki pengertian yang di dalamnya mencakup sekaligus proses mengajar yang mengandung serangkaian perbuatan guru untuk menciptakan sistem lingkungan, dan proses belajar yang terjadi pada diri Siswa untuk menghasilkan perubahan pada diri Siswa sebagai akibat kegiatan mengajar dan belajar. Efek sistem lingkungan yang diciptakan dosen mencakup efek yang bersifat langsung yang disebut dengan efek pembelajaran (instructional effects) maupun efek tidak langsung atau efek sertaan (nurturant effects).

    efek sistem lingkungan yang diciptakan guru bisa berupaintructional effects dan nurturant effects, maka model pembelajaran menurut Joice, Weil & Showers (1992) juga menghasilkan efek langsung (instructional effects) dan dampak tidak langsung (nurturant effects).
    Saat ini berbagai model pembelajaran bisa diterapkan dalam pembelajaran IPS seperti antara lain dikemukakan Kiswoyo (1995); model pembelajaran konsep dengan pendekatan expository dan pendekatan discovery (Martorella, 1994), model memainkan peran (role playing) yang dirancang untuk membantu Siswa mempelajari nilai-nilai sosial, peran konflik dan mengamati perilaku sosial, model "cooperative learning" dan model "thematic Unit" yang biasanya digunakan untuk kegiatan pembelajaran secara terpadu.

    Model pembelajaran yang paling komprehensif (comprehensive) adalah yang dikemukakan Joyce, Weil & Showers (1992:132), yang mengidentifikasi 16 (enam belas) model pembelajaran yang dibagi menjadi 4 (empat) kelompok yaitu:
    1. Model pembelajaran kelompok sosial (social family models), yaitu;(1) Model belajar kerjasama, (2) Model investigasi kelompok, (3) Model memainkan peranan, dan (4) Model penelitian jurisprudensi.
    2. Kelompok pemrosesan informasi (information processing family), yaitu; (1) Model belajar berpikir induktif, (2) Model belajar konsep, (3) Model belajar mahal, (4) Model pengorganisasian tingkat tinggi, (5) Model latihan penelitian, dan ( 6) Model synetic untuk membangun kemampuan anak berpikir kreatif.
    3. Kelompok personal (personal family), yaitu; (1) Model pembelajaran tanpa petunjuk, dan (2) Model pengembangan konsep diri.
    4. Grup sistem tingkah laku (behavioral systems family), yaitu: (1) Model belajar yang diarahkan, (2) Model belajar masteri dan belajar yang terprogram, dan (3) Model simulasi (modeling).
    Model-model pembelajaran dalam kelompok sosial (social family models), menurut Joyce, Weil & Shower (1992:132) dikembangkan oleh para ahli dengan menggabungkan dua pandangan mereka tentang belajar dan masyarakat. Belajar merupakan suatu kerjasama yang tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga intelektual, karena dalam belajar membutuhkan interaksi sosial yang dirancang sedemikian rupa untuk meningkatkan kemampuan akademis.Model-model pembelajaran dalam kelompok sosial memfokuskan pada suatu proses di mana realitas dinegosiasikan secara sosial, dan menekankan pada hubungan antara individu dengan masyarakat.

    Kemudian model-model dalam kelompok pemrosesan informasi (information processing family) berorientasi pada kemampuan anak untuk mengolah informasi. Model ini mencakup tujuan-tujuan yang luas dalam proses pembelajaran, yaitu mulai dari tujuan yang sangat sederhana dan khusus sampai pada tujuan yang publik dan kompleks.

    Model-model kelompok personal (personal family) berorientasi pada individu. Model pembelajaran ini dikembangkan dari teori belajar humanistik. Tujuan model pembelajaran personal adalah untuk meningkatkan kesehatan mental dan emosional anak-anak, dan keterlibatan anak-anak dalam menentukan / memilih apa yang ingin dipelajari dan bagaimana mempelajarinya, sehingga ada kesesuaian yang tinggi antara bahan belajar dengan kebutuhan anak, mengembangkan pemahaman diri ( self-consept), kreativitas, dan kemampuan anak dalam mengekspresikan diri dengan lebih baik.

    Sedangkan model kelompok sistem tingkah laku (behavioral systems family) menekankan pada perubahan tingkah laku nyata dari anak-anak, dari perubahan struktur psikologis.Model ini dikembangkan dari teori belajar yang dikembangkan oleh BF Skiner. Ide-ide pokok model ini didasarkan pada paradigma stimulus - respon - penguatan (reinforcement) di mana tingkah laku manusia dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan. Model ini digunakan dalam berbagai hal, mulai dari mengajarkan informasi, konsep, dan keterampilan, sampai pada meningkatkan rasa nyaman dan santai, menghilangkan phobia, mengubah kebiasaan, dan belajar untuk mengontrol tingkah laku sendiri (Joyce, Weil & Showers, 1992:132).

    Setelah membahas tentang model-model pembelajaran, Gistituati (2002:13) menyimpulkan bahwa; pertama, tidak ada batas nyata antara model yang satu dengan yang lain. Kedua, tidak ada model yang bisa dikatakan paling bagus, atau paling superior. Ketiga, beberapa jenis bisa digunakan untuk berbagai macam tujuan. Model personal dan sosial dapat diterapkan untuk mencapai tujuan sosial dan akademis, akan tetapi masing-masing model memiliki kekuatan tertentu untuk mencapai tujuan tertentu.Oleh karena itu menurutnya, dalam memilih model yang akan digunakan, harus diperhatikan tujuan-tujuan apa yang diharapkan untuk semua anak-anak, kemampuan anak, perbedaan individu dan ketersediaan sarana.
    Selengkapnya...

    Jumat, Oktober 21, 2011

    Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Team Achievement Division )


    Pembelajaran model koooperatif tipe STAD merupakan” salah satu pembelajaran kooperatif yang diterapkan untuk menghadapi kemampuan siswa yang heterogen. Dimana model ini dipandang sebagai metode yang paling sederhana dan langsung dari pendekatan pembelajaran kooperatif. Metode ini paling awal ditemukan dan dikembangkan oleh para peneliti pendidikan di John Hopkins Universitas Amerika Serikat dengan menyediakan suatu bentuk belajar kooperatif. Di dalamnya siswa diberi kesempatan untuk melakukan kolaborasi dan elaborasi dengan teman sebaya dalam bentuk diskusi kelompok untuk memecahkan suatu permasalahan” (Arindawati, 2004: 83 - 84). Dalam model pembelajaran ini, masing-masing kelompok beranggotakan 4 – 5 orang yang dibentuk dari anggota yang heterogen terdiri dari laki-laki dan perempuan yang berasal dari berbagai suku, yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Jadi, model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah salah satu model pembelajaran yang berguna untuk menumbuhkan kemampuan kerjasama, kreatif, berpikir kritis dan ada kemampuan untuk membantu teman serta merupakanpembelajaran kooperatif yang sangat sederhana.


    Pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri lima komponen utama, yaitu :

    1. Penyajian kelas
    Guru menyampaikan materi pembelajaran sesuai dengan penyajian kelas. Penyajian kelas tersebut mencakup pembukaan, pengembangan dan latihan terbimbing.

    2. Kegiatan kelompok
    Siswa mendiskusikan lembar kerja yang diberikan dan diharapkan saling membantu sesama anggota kelompok untuk memahami bahan pelajaran dan menyelesaikan permasalahan yang diberikan.

    3. Kuis (Quizzes)
    Kuis adalah tes yang dikerjakan secara mandiri dengan tujuan untuk mengetahui keberhasilan siswa setelah belajar kelompok. Hasil tes digunakan sebagai hasil perkembangan individu dan disumbangkan sebagai nilai perkembangan dan keberhasilan kelompok.

    4. Skor kemajuan (perkembangan ) individu
    Skor kemajuan individu ini tidak berdasarkan pada skor mutlak siswa, tetapi berdasarkan pada beberapa jauh skor kuis terkini yang melampui rata-rata skor siswa yang lalu.

    5. Penghargaan kelompok
    Penghargaan keompok adalah pemberian predikat kepada masing-masing kelompok. Predikat ini diperoleh dengan melihat skor kemajuan kelompok. Skor kemajuan kelompok diperoleh dengan mengumpulkan skor kemajuan masing-masing kelompok sehingga diperoleh skor rata-rata kelompok. 


    Tabel 03. Langkah-langkah proses pembelajaran model kooperatif tipe STAD


    No
    Tahap
    Tingkah Laku Guru
    1.
    Tahap pendahuluan
    a.  Guru memberikan informasi kepada siswa tentang materi yang akan mereka pelajari, tujuan pembelajaran dan  pemberian motivasi agar siswa tertarik pada materi.
    b.  Guru membentuk siswa kedalam kelompok yang sudah direncanakan.
    c.   Mensosialiasakan kepada siswa tentang modell pembelajaran yang digunakan dengan tujuan agar siswa mengenal dan memahamimya.
    d.  Guru memberikan apersepsi yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari.
    2.
    Tahap pengembangan
    a.  Guru mendemonstrasikan konsep atau keterampilan   secara  aktif dengan menggunakan alat bantu atau manipulatif lain.
    b.  Guru membagikan lembar kerja siswa (LKS) sebagai bahan diskusi kepada masing-masing kelompok.
    c.  Siswa diberikan kesempatan untuk mendiskusikan LKS bersama kelompoknya.
    d.  Guru memantau kerja dari tiap kelompok dan membimbing siswa yang mengalami kesulitan.
    3
    Tahap penerapan
    a. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan soal-soal yang ada dalam LKS dengan waktu yang ditentukan, siswa diharapkan bekerja secara individu tetapi tidak menutup kemungkinan mereka saling bertukar pikiran dengan anggota yang lainnya.
    b. Setelah siswa selesai mengerjakan soal lembar jawaban, kemudian dikumpulkan untuk dinilai.




    Keuntungan dan kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe STAD menurut Roestiyah (2001: 17), yaitu : 

    1. Keuntungan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, yaitu:
    • Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya dan membahas suatu masalah.
    • Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai suatu masalah.
    • Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan berdiskusi.
    • Dapat memungkinkan guru untuk lebih memperhatikan siswa sebagai individu dan kebutuhan belajarnya.
    • Para siswa lebih aktif bergabung dalam pelajaran mereka dan mereka lebih aktif dalam diskusi.
    • Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan rasa menghargai, menghormati pribadi temannya, dan menghargai pendapat orang lain.

    2. Kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, yaitu:

    Kerja kelompok hanya melibatkan mereka yang mampu memimpin dan mengarahkan mereka yang kurang pandai dan kadang-kadang menuntut tempat yang berbeda dan gaya-gaya mengajar berbeda.
    Selengkapnya...